ANALISIS POLA KLASTER DAN ORIENTASI PASAR

Abstraksi

Industru kecil dan menengah (IKM) merupakan tumpuan utama pemerintah dalam menciptakan tenaga kerja. Disamping itu IKM juga menjadi fenomena tersendiri karena mampu bertahan pada kondisi krisis. Setidaknya ada tiga (3) alasan mengapa IKM ini penting, pertama, kinerja IKM cenderung lebih baik dalam menghasilkan tenaga kerja yang produktif. Kedua, IKM sering meningkatkan produktifitas melalui investasi dan aktif mengikuti perubahan teknologi. Dan ketiga, IKM mempunyai keunggulan dalam fleksibilitas dibandingkan dengan usaha besar. 1) Penelitian ini bertujuan untuk Menganalisis pola klaster di sentra industri keripik tempe Sanan, Kota Malang. 2) Menganalisis faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi orientasi pasar di sentra industri keripik tempe Sanan, Kota Malang. Alat analisis yang digunakan adalah analisis klaster dan Analisis Regresi Logistik.

Adapun hasil penelitiannya Pola Klaster pada industri keripik tempe sanan Kota Malang cenderung mengikuti pola Distrik Marshallian dan Hub Spoke. Distrik Marshallian meliputi Struktur bisnis dan skala ekonomi, Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster,  Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster,  Pasar dan Migrasi tenaga kerja, Keterkaitan identitas budaya lokal, Unit/ tempat peminjaman dana, Peranan pemerintah lokal dan Peranan asosiasi perdagangan. Berdasarkan analisis pola klaster, maka dapat disimpulkan bahwa industri keripik tempe sanan kota Malang cenderung mengikuti pola Distrik Marshallian dan Hub Spoke. Distrik Marshallian meliputi Struktur bisnis dan skala ekonomi dimana industri keripik tempe sanan Didominasi oleh usaha kecil dan Skala ekonominya relatif rendah, Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku Jangka panjang antara pembeli dengan pemasok bahan baku lokal, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster Relatif lemah,  Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster Rendah,  Pasar dan Migrasi tenaga kerja Pasar tenaga kerja internal ke distrik lebih fleksibel dan migrasi masuk ke industri tinggi, Keterkaitan identitas budaya lokal Terjadi evolusi  kebudayaandan pertalian lokal, Unit/ tempat peminjaman dana Keberadaan unit tempat peminjaman dana terdapat di dalam daerah, Peranan pemerintah lokal Peran kuat dari pemerintah lokal dalam regulasi dan promosi industri inti dan Peranan asosiasi perdagangan Kuat terhadap asosiasi perdagangan dan terdapat kerjasama tinggi dengan perusahaan kompetitoruntuk berbagi resiko dan stabilisasi pasar. Sedangkan yang mengikuti klaster Hub and Spoke adalah Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster, Pasar dan Migrasi tenaga kerja dan Peranan asosiasi perdagangan. Berdasarkan analisis regresi logistik  dapat diseimpulkan bahwa Umur perusahaan dan promosi berpengaruh dalam menentukan orientasi pasar industri keripik tempe sanan Malang. Dengan kata lain, semakin tua usia perusahaan maka semakin berpengaruh, dan semakin aktif berpromosi/mengiklankan produknya maka akan berpengaruh terhadap orientasi pasar

Latar Belakang

Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh Kota Malang adalah usaha skala kecil (home industry) khususnya industri keripik tempe sanan, yang merupakan industri kecil dengan corak padat karya yang merupakan sasaran utama dalam kebijakan industri pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja yang dapat meningkatkan perekonomian penduduk untuk menjadikan perekonomian yang lebih baik. Dalam perkembangannya, Industri keripik tempe sanan ini mengalami peningkatan/pertumbuhan yang relatif stabil dibandingkan dengan home industry lainnya, hal ini disebabkan karena produk dari industri keripik tempe sanan ini merupakan produk makanan yang menjadi kebutuhan umum untuk dikonsumsi masyarakat dan harganya relatif terjangkau oleh semua kalangan. Disamping itu, tersedianya bahan baku kedelai yang melimpah.

Dusun sanan terdiri dari 3 (tiga) rukun warga (RW) yakni RW 14, 15, dan 16, sedikitnya terdapat 336 perajin tempe yang secara alamiah membentuk klaster industri. Seiring dengan waktu, industri tempe sanan mampu berkembang dengan pesat dan bahkan menjadi icon oleh-oleh khas Malang (Wisyasari: 2013). Industri yang terletak di Jl. Sentra Industri Tempe Sanan kelurahan Purwantoro Malang ini terdapat banyak sekali home industry tempe yang masih tradisional. Hampir seluruh penduduk Kampung Sanan menyulap rumah mereka menjadi sebuah toko keripik tempe. Bahkan Sentra Industri Keripik Tempe Sanan merupakan salah satu contoh UKM yang sampai sekarang masih terjaga eksistensinya. Dapat kita ketahui jika kita pergi kearah Sanan Malang, maka disitu kita dapat melihat para penjual keripik tempe yang begitu banyak dan jarak usaha yang satu dengan yang lain sangat berdekatan bahkan rata-rata bersebelahan serta jenis barang yang dijual juga sama. Hal ini yang membuat IKM di daerah Sanan berbeda dengan IKM yang lain. Walaupun jenis barang yang dijual sama yakni kripik tempe dan jaraknya berdekatan, akan tetapi para pedagang di daerah Sanan tersebut masih bisa mempertahankan perkembangan usahanya.

Dari gambaran penjelasan tersebut, penelitian ini menitikberatkan pada IKM di sentra industri keripik tempe Sanan, Kota Malang, Jawa Timur. Objek wilayah Sanan dipilih karena tiga faktor. Pertama, faktor usia industri sudah cukup tua bila dilihat dari sejarah. Kedua, timbulnya efek multiplier (multiplier Effect) yang besar seperti besarnya konstribusi baik finansial, tenaga kerja maupun unit usaha di Malang. Ketiga, melihat struktur usahanya yang didominasi oleh industri kecil dan rumah tangga.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah sebagai berikut : 1) Menganalisis pola klaster di sentra industri keripik tempe Sanan, Kota Malang. 2) Menganalisis faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi orientasi pasar di sentra industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.

Landasan Teori

  1. Pengertian Industri

Menurut Wignjosoebroto (2003) mengartikan industri sebagai suatu lokasi/tempat dimana aktivitas produksi akan diselenggarakan, sedangkan aktivitas produksi bisa dinyatakan sebagai sekumpulan aktivitas yang diperlukan untuk mengubah satu kumpulan masukan (human resources, materials, energy, information, dll) menjadi produk keluaran (finished product atau services) yang memiliki nilai tambah. Di dalam proses produksi akan terjadi suatu proses perubahan bentuk (transformasi) dari input yang dimasukkan, baik secara fisik maupun non fisik. Di sini akan terjadi apa yang disebut dengan pemberian nilai tambah (value added) dari input material yang diolah. Penambahan nilai tersebut bisa ditinjau dari aspek penambahan nilai fungsional maupun nilai ekonomisnya. Jadi, industri dapat diartikan sebagai upaya menciptakan nilai tambah.

  1. Klasifikasi Industri

Industri berdasarkan tenaga kerja

Berdasarkan jumlah tenaga kerja yang digunakan, industri dapat dibedakan menjadi :

  1. Industri rumah tangga, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja kurang dari empat orang. Ciri industri ini memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya. Misalnya: industri anyaman, industri kerajinan, industri tempe/tahu, dan industri makanan ringan.
  2. Industri kecil, yaitu industri yang tenaga kerjanya berjumlah sekitar 5 sampai 19 orang, Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relatif kecil, tenaga kerjanya berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada hubungan saudara. Misalnya: industri genteng, industri batubata, dan industri pengolahan rotan.
  3. Industri sedang, yaitu industri yang menggunakan tenaga kerja sekitar 20 sampai 99 orang. Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup besar, tenaga kerja memiliki keterampilan tertentu, dan pimpinan perusahaan memiliki kemapuan manajerial Misalnya: industri konveksi, industri bordir, dan industri keramik.
  4. Industri besar, yaitu industri dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang. Ciri industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun secara kolektif dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemampuan dan kelayakan (fit and profer test). Misalnya: industri tekstil, industri mobil, industri besi baja, dan industri pesawat terbang.

Industri berdasarkan lokasi usaha

Keberadaan suatu industri sangat menentukan sasaran atau tujuan kegiatan industri. Berdasarkan lokasi unit usahanya, industri dapat dibedakan menjadi :

  1. Industri berorientasi pada pasar (market oriented industry),
  2. Industri berorientasi pada tenaga kerja (employment oriented industry),
  3. Industri berorientasi pada pengolahan (supply oriented industry),
  4. Industri berorientasi pada bahan baku,
  5. Industri yang tidak terikat oleh persyaratan yang lain (footloose industry),

Industri berdasarkan proses produksi

Berdasarkan proses produksi, industri dapat dibedakan menjadi:

  1. Industri hulu, yaitu industri yang hanya mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi. Industri ini sifatnya hanyamenyediakan bahan baku untuk kegiatan industri yang lain. Misalnya: industri kayu lapis, industri alumunium, industri pemintalan, dan industri baja.
  2. Industri hilir, yaitu industri yang mengolah barang setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan dapat langsung dipakai atau dinikmati oleh konsumen. Misalnya: industri pesawat terbang, industri konveksi, industri otomotif, dan industri meubel.
  3. Sentra Industri

Sentra industri kecil adalah kelompok jenis industri yang dari segi satuan usaha mempunyai skala kecil yang membentuk suatu pengelompokan atau kawasan produksi yang terdiri dari kumpulan unit usaha yang menghasilkan barang sejenis dan ditinjau dari tempat pemasaran, menjangkau pasar yang lebih luas. Dalam pandangan Marshall, sentra industri yang didalamnya termasuk industri kecil dan menengah (IKM), telah memperoleh keuntungan karena berada di dalam wilayah yang berdekatan (geographical proximity). Diantaranya adalah tersedianya tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus dan sangat dibutuhkan oleh perusahaan (labor pool) dan adanya pertukaran informasi dan gagasan (Marshall: 267-277)

  1. Klaster Industri

Schmitz & Musyck (1994) mendefinisikan klaster sebagai kelompok perusahaan yang berkumpul pada satu lokasi dan bekerja pada sektor yang sama. Enright (1996, 1998, 2000) mendefinisikan klaster sebagai perusahaan-perusahaan yang sejenis/sama atau yang saling berkaitan, berkumpul dalam suatu batasan geografis tertentu. Klaster (JICA, 2004) didefinisikan sebagai pemusatan geografis industri industri terkait dan kelembagaan-kelembagaannya. Kementerian Koperasi dan UKM seperti tersurat dalam buku Pemberdayaan UKM Melalui Pemberdayaan SDM dan Klaster Bisnis, menunjukkan pengertian klaster sebagai kelompok kegiatan yang terdiri atas industri inti, industri terkait, industri penunjang, dan kegiatan-kegiatan ekonomi (sektor-sektor) penunjang dan terkait lain, yang dalam kegiatannya akan saling terkait dan saling mendukung..

  1. Pola Klaster Markussen

Markussen membedakan klaster industri menjadi empat klaster, yaitu distrik Marshallian, distrik Hub and Spoke, distrik satelit, dan distrik State-anchored Markussen (1996). Berikut matrik pola klaster industri Markussen:

Tabel 1. Matrik Pola Klaster Industri Markussen

No Variabel Distrik Marshallian Hub And Spoke Distrik Satelit State-Anchored
1

 

 

 

Struktur bisnis dan skala ekonomi

 

 

 

Didominasi oleh usaha kecil. Skala ekonomi relatif rendah

 

 

Didominasi oleh satu/beberapa perusahaan besar. Skala ekonomi relatif tinggi

Didominasi oleh satu/beberapa perusahaan besar. Skala ekonomi relatif tinggi  Didominasi oleh satu/beberapa perusahaan besar. Skala ekonomi relatif tinggi pada sektor publik
2

 

 

 

Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku Jangka panjang antara pembeli dengan pemasok bahan baku lokal

 

Jangka panjang antara perusahaan besar dengan pemasok bahan baku. Tidak ada Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku lokal Kontrak dan komitmen jangka pendek antara institusi dominan dengan pemasok bahan baku lokal
3

 

 

Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster Relatif lemah

 

 

Kuat

 

 

Relatif kuat

 

 

Relatif Kuat

 

 

4

 

 

Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster  Rendah

 

 

 Tinggi

 

 

Tinggi dengan pengusaha Induk

 

Diluar distrik tinggi

 

 

5

 

 

 

 

Pasar dan Migrasi tenaga kerja

 

 

 

Pasar tenaga kerja internal ke distrik lebih fleksibel dan migrasi masuk ke industri tinggi

 

Pasar tenaga kerja internal ke distrik kurang fleksibel dan migrasi keluar sedikit masuk ke industri tinggi Pasar tenaga kerja eksternal ke distrik menyebabkan integrasi vertikal

 

Pekerja lebih berkomitmen ke perusahaan besar , kedua, ke tiga dan ke perusahan kecil

 

6

 

Keterkaitan identitas budaya lokal Terjadi evolusi  kebudayaandan pertalian lokal Terjadi evolusi  kebudayaandan pertalian lokal Terjadi evolusi kecil kebudayaan lokal Terjadi evolusi  kebudayaandan pertalian lokal
7  Unit/ tempat peminjaman dana Keberadaan unit tempat peminjaman dana terdapat di dalam daerah Sedikit unit tempat peminjaman dana terdapat di dalam daerah Tidak terdapat  unit peminjaman dana Tidak terdapat unit peminjaman dana
8

 

 

 

 

Peranan pemerintah lokal

 

 

 

Peran kuat dari pemerintah lokal dalam regulasi dan promosi industri inti

 

 Peran kuat dari pemerintah lokal, provinsi dan nasional  dalam regulasi dan promosi industri inti Peran kuat dari pemerintah lokal, provinsi dan nasional dalam penyediaan infrastruktur, keringanan pajak dan lainnya Peran lemah dari pemerintah lokal dalam regulasi dan promosi industri inti

 

9

 

 

 

 

 

 

Peranan asosiasi perdagangan

 

 

 

 

 

Kuat terhadap asosiasi perdagangan dan terdapat kerjasama tinggi dengan perusahaan kompetitoruntuk berbagi resiko dan stabilisasi pasar

 

Tidak ada asosiasi dagang yang menyediakan infrastruktur, pelatihan dan bantuan teknis keuangan. Ketergantungan pada infrastruktur publik Tidak ada asosiasi dagang yang menyediakan infrastruktur, pelatihan dan bantuan teknis keuangan.

 

Asosiasi perdagangan lemah dalam menyediakan infrastruktur, pelatihan dan bantuan teknis keuangan. Ketergantungan pada infrastruktur publik

 

Sumber: Markussen, 1996

Orientasi Pasar

Menurut Cravens dan Piercy (dalam Afifah 2013:1) bahwa Orientasi pasar merupakan perspektif bisnis yang menjadikan konsumen sebagai fokus perhatian dalam keseluruhan kegiatan perusahaan. Dari definisi tersebut tercermin satu filosofi tentang orientasi pasar  adalah: (i) mempelajari perkembangan pasar; (ii) berbagi informasi dengan seluruh anggota perusahaan; dan (iii) mengadaptasi perubahan pasar yang terjadi.

Keterkaitan Antar Variabel

Pertama, keterkaitan antara tenaga kerja dengan orientasi pasar. Tenaga kerja merupakan sumberdaya manusia yang sangat penting bagi kelangsungan sebuah industri, karena terkait dengan aktivitas industri itu sendiri. Menurut Porter (1998) bahwa faktor input dalam suatu industri seperti sumber daya manusia (human resource), merupakan penentu keberhasilan industri tersebut. Semakin tinggi kualitas faktor input ini, maka semakin besar peluang industri untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas.

Kedua, keterkaitan antara pelatihan usaha dengan orientasi pasar. Pelatihan merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh individu maupun kelompok untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan oleh setiap pekerja. Pada dasarnya pelatihan tersebut terkait dengan peningkatan kualitas human dalam setiap perusahaan/industri sehingga output yang dihasilkan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh perusahaan/industri.

Ketiga, keterkaitan antara umur perusahaan dengan orientasi pasar. Umur perusahaan menunjukkan seberapa lama perusahaan mampu bertahan melaksanakan kegiatan operasionalnya. Semakin lama umur perusahaan, maka semakin banyak informasi yang telah diperoleh masyarakat tentang perusahaan tersebut. Dengan demikian, akan mengurangi adanya asimetri informasi, dan memperkecil ketidakpastian pada masa yang akan datang (Choirunnisa, 2012:32).

Ke-empat, keterkaitan teknologi peralatan dengan orientasi pasar. Peran teknologi dalam peningkatan produktivitas industri sangatlah besar. Hal ini disebabkan karena pola klaster terfokus pada kegiatan manufacturing, maka peran teknologi sangat dominan karena berpengaruh langsung terhadap tingkat efisiensi, efektivitas dan produktivitas.nKelima, keterkaitan antara jaringan pembeli terbesar dengan orientasi pasar. Ke-enam, keterkaitan antara jaringan pemasok bahan baku dengan orientasi pasar. Ke-tujuh, keterkaitan Antara Keaktifan Berpromosi dengan Orientasi Pasar.

Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian yang dilakukan dalam ekonomi industri membahas tentang formasi keterkaitan, orientasi pasar dan klaster industri kecil sebagai berikut:

Kuncoro dan Irwan (2003) Analisis Formasi Keterkaitan, pola Klaster dan Orientasi Pasar : Studi Kasus Sentra Industri Keramik Kasongan, Kab. Bantul, DIY Menganalisis pola klaster yang diajukan oleh (Markusen, 1996) berdasarkan studinya di Amerika Serikat, dengan tujuan untuk mengetahui formasi keterkaitan dan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi pasar domestik atau ekspor dengan menggunakan alat analisis Binary Logistic Regression. Adapun hasil dari penelitiannya adalah bahwa Pola kluster Kasongan mengikuti sebagian pola kluster Marhallian dan Hub and Spoke. Sedangkan Berdasarkan analisis regresi logistik, bahwa variabel aktifitas berpromosi, teknologi, jumlah tenaga kerja dan umur perusahaan sangat berpengaruh dalam menentukan orientasi pasar industri keramik Kasongan.

Susilo (2007) meneliti tentang Pertumbuhan Usaha Industri Kecil-Menengah (IKM) dan faktor yang mempengaruhinya di industri Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Yang bertujuan Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan usaha seperti jumlah tenaga kerja, umur usaha, badan hukum, kepemilikan modal, dan orientasi pasar pada IKM Kasongan, Bantul, Yogyakarta. Alat analisis yang digunakan adalah Ordinarry Least Square. Hasil dari penelitiannya adalah Pertumbuhan usaha pengrajin gerabah dan keramik Kasongan dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh ukuran usaha, umur usaha, badan hukum, dan tidak ada perbedaan yang signifikan pada perusahaan yang berorientasi ekspor dengan pertumbuhan usahanya/keuntungannya.

Krisnadewara (2008) meneliti tentang Formasi Keterkaitan Industri Makanan Bakpia “PATHUK” Skala Kecil Di Kota Yogyakarta. Tujuan dari penelitiannya adalah untuk mengetahui keterkaitan ke belakang, keterkaitan ke depan, dan keterkaitan dengan “stakeholder” pada industri makanan Bakpia “Phatuk” di Kota Yogyakarta. Dengan menggunakan analisis Deskriptif diperoleh hasil bahwa Industri makanan Bakpia Pathuk ini terjadi keterkaitan secara vertikal khususnya keterkaitan kebelakang dengan sektor industri input makanan bakpia pathuk, Keterkaitan ke depan terjalin dengan pemasaran bakpia pathuk melalui outlet/warung/toko yang dikelola sendiri, outlet/warung/toko. Keterkaitan dengan “Stakeholders” melalui hubungan industri bakpia pathuk dengan pihak pemerintah (kota dan propinsi), perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, asosiasi pengusaha, paguyuban pemandu wisata, dan paguyuban tukang becak.

Riswidodo dan Nining (2007) meneliti tentang Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Orientasi Pasar Pengembangan Usaha Kecil Dan Menengah (Studi di Industri Kerajinan Tenun dan Anyaman Kecamatan Minggir dan Moyudan Kabupaten Sleman). Tujuannya adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi pasar dari usaha kecil dan menengah industri kerajinan tenun dan anyaman yang ada di Kecamatan Moyudan dan Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman. Dengan menggunakan Analisis statistik deskriptif dan regresi logistik. Diperoleh hasil terdapat variabel aktivitas berpromosi, nilai penjualan, jumlah tenaga kerja, usia usaha, tingkat pendidikan pengusaha dan jaringan pembeli sangat berpengaruh dalam menentukan orientasi pasar.

Yohanes (2010) meneliti tentang Analisis Pola Kluster, Formasi Keterkaitan, Orientasi Pasar : Studi Kasus Sentra Industri Kecil Menengah Produk Kulit Di Sidoarjo, Jawa Timur. Tujuan penelitiannya adalah untuk menganalisis pola klaster di industri produk kulit di Sidoarjo, menganalisis formasi keterkaitan pasar sentra industri produk kulit Sidoarjo dan menganalisis faktor yang mempengaruhi orientasi pasar domestik maupun luar negeri. Alat analisis yang digunakan adalah Binary Logistic Regression. Diperoleh hasil bahwa Pola klaster Tanggulangin mengikuti pola Marshalian dan Hub and Spoke. Sedangkan Berdasar Analisis Regresi Logistik terdapat 4 faktor yang signifikan Status Badan Hukum (BH), Jumlah Tenaga Kerja (TK), Tingkat pendidikan Tenaga Kerja (TPT), Jumlah Tenaga Kerja tidak dibayar (JTKT). Variabel–variabel lain tidak mempunyai pengaruh signifikan untuk membedakan kedua kategori tersebut.

Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan batasan masalah, uraian penelitian terdahulu serta kerangka pemikiran teoritis, maka dalam penelitian ini dapat diajukan beberapa hipotesis sebagai berikut:

  1. Jumlah tenaga kerja diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.
  2. Pelatihan Usaha diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.
  3. Umur/usia perusahaan diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.
  4. Teknologi yang digunakan untuk berproduksi diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.
  5. Jaringan pembeli terbesar diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.
  6. Jaringan pemasok bahan baku diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.
  7. Keaktifan berpromosi diduga berpengaruh positif terhadap orientasi pasar industri keripik tempe Sanan, Kota Malang.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini berlokasi di kawasan industri keripik tempe sanan Jl. Sentra Industri Tempe Sanan kelurahan Purwantoro Kota Malang Propinsi Jawa Timur.

Dalam penelitian ini orientasi ekspor atau domestik sebagai variabel terikat, sedangkan variabel bebasnya dikembangkan dari variabel penelitian sebelumnya dari Markussen (1996), Kuncoro dan Supomo (2003), Riswidodo dan Nining (2007), Y. Sri Susilo (2007) dan Wimba (2010) maka didapat variabel bebas sebagai berikut : jumlah tenaga kerja, pelatihan, umur perusahaan, teknologi, jaringan pembeli, jaringan pemasok bahan baku, dan keaktifan berpromosi.

Teknik Pengukuran Variabel

Variabel masing-masing tipe klaster dalam penelitian ini, diukur dengan menggunakan skala Likert lima poin, yang menunjukkan skala intensitas persepsi responden secara langsung mulai dari 1 = tidak pernah, 2 = sangat jarang, 3 = kadang-kadang, 4 = sering, dan 5 = sangat sering, yang mencerminkan hubungan indikator 1 = sangat lemah, 2 = lemah, 3 = sedang, 4 = kuat, dan 5 = sangat kuat. Klasifikasi intensitas dalam pengukuran indikator yaitu sangat lemah, lemah, sedang, kuat, dan sangat kuat dalam variabel jaringan pemasok dan pembeli menggunakan metode distribusi data yang disesuaikan dengan kemencengan sebaran data yang kemudian dibagi menjadi lima yang terlihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Klasifikasi Intensitas Jaringan

Klasifikasi Intensistas Interval Nilai
Sangat Lemah I < X – SD
Lemah X – SD ≤ I < X
Sedang X ≤ I < X + SD
Kuat I ≥ X + SD
Sangat Kuat X ≥ I ≥ X + SD
Ket. : I = Nilai Indikator X = Rata-rata
SD = Standar Deviasi

Klasifikasi intensitas pada variabel keaktifan berpromosi, juga dilihat dari intensitas distribusi rata-rata responden yang kemudian dibagi menjadi 3 kategori yaitu 1 = tidak aktif berpromosi, 2 = cukup aktif berpromosi, dan 3 = aktif berpromosi dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3 Klasifikasi Intensitas Promosi

Klasifikasi Intensistas Interval Nilai
Tidak Aktif I < X – SD
Cukup Aktif X – SD ≤ I < X
Aktif I ≥ X + SD
Ket. :

I = Nilai Indikator

X = Rata-rata

SD = Standar Deviasi

Populasi dan Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Purposive Sampling yang merupakan pendekatan pengambilan sampel yang tidak dilakukan pada seluruh populasi, tapi terfokus pada target penelitian. Pendekatan ini dalam penentuan sampel mempertimbangkan kriteria-kriteria tertentu yang telah dibuat terhadap objek yang sesuai dengan tujuan penelitian.

  • Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, Data Primer, yaitu data yang diperoleh melalui wawancara dengan responden yang relevan dengan survei lapangan (kuesioner). Dalam penelitian ini responden yang diwawancarai adalah stakeholder untuk menganalisis pola klaster dan para pengusaha industri yang berkepentingan dengan objek penelitian untuk melihat formasi keterkaitan dan faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi pasar. Adapun data primer yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden dan stakeholders. Kedua, Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dari lembaga pengumpul data. Adapun data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Malang, Badan Pusat Statistik Kota Malang, dan data terkait dari koperasi di Sanan.

Metode Pengumpulan Data

Metode Survei

Merupakan metode pengumpulan data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. Ada dua teknik dalam pengumpulan data metode survei:  Kuesioner dan Wawancara.

Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Dalam penelitian ini, uji validitas dilakukan dengan cara melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. Uji signifikasi dilakukan dengan membandingkan nilai antara r hitung dengan r tabel. Jika r hitung < r tabel, maka item-item yang tidak berkorelasi secara signifikan dinyatakan gugur dalam artian variabel yang tidak valid, tidak digunakan lagi dalam análisis selanjutnya. Hasil perhitungan pada uji validitas diperoleh r tabel (df = n – k = 38 – 2 = 36) sebesar 0.2542.

Untuk mengetahui apakah alat ukur reliabel atau tidak, diuji dengan menggunakan metode Alpha Cronbach (α). Sebuah instrumen dianggap telah memiliki tingkat keandalan yang dapat diterima, jika nilai Alpha Cronbach (α) yang terukur adalah lebih besar atau sama dengan 0,60.

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif menggunakan metode analisis deskriptif presentase, sedangkan analisis kuantitatif menggunakan analisis klaster untuk memperkuat argumen tentang pola klaster dan analisis regresi logistik untuk mengetahui probabilitas faktor yang mempengaruhi orientasi pasar. Metode analisis tersebut dijelaskan sebagai berikut :

Analisis Statistik Deskriptif

Menurut Kuncoro (2003:172) Analisis Diskriptif adalah Analisis yang digunakan untuk menghasilkan gambaran dari data yang telah terkumpul berdasarkan jawaban responden melalui distribusi item dari masing-masiang variabel. Penyajian data yang telah terkumpul pembahasannya secara deskriptif dilakukan dengan menggunakan tabel frekuensi.

Analisis Klaster

Analisis klaster merupakan teknik mereduksi informasi. Informasi dari sejumlah objek akan direduksi menjadi sejumlah kelompok, dimana jumlah kelompok lebih kecil dari jumlah objek. Objek-objek yang sama dikelompokkan dalam suatu kelompok sehingga mempunyai tingkat kesaman yang tinggi dibandingkan dengan objek dari kelompok lain.

Penelitian ini menggunakan metode pengelompokan secara hirarki karena kurang dari 100 sampel dan diuraikan dengan metode aglomeratif, langkah pertama, objek membentuk klaster sendiri, langkah kedua, dua objek yang saling berdekatan bergabung, langkah ketiga, objek baru bergabung dengan klaster yang berisi dua objek tadi atau dua objek lain membentuk klaster baru dan seterusnya.

Analisis Regresi Logistik

Analisis regresi logistik adalah analisis yang menjelaskan efek dari variabel bebas terhadap variabel terikat, dengan variabel bebas bertipe kualitatif maupun kuantitatif dan variabel terikat memiliki tipe data berupa dikotom maupun polikotom (Kuncoro, 2001).

Kategori sektor industri tempe Sanan yang berorientasi pasar domestik (inward) atau berorientasi pasar ekspor (outward) mampu diprediksi dengan sejumlah variabel bebas. Sehingga dalam penelitian ini akan dihasilkan model persamaan sebagai berikut:

Dori=bo+b1TK1+b2PEL2+b3UMUR3+b4TEK4+b5JPT5+b6JBB6+b7AKT7+eor……(3.1)

Dimana : Dori Dummy orientasi pasar 0=orientasi pasar domestik, 1 = ekspor
Bo Konstanta
TK Tenaga Kerja Variabel kontinyu
PEL Pelatihan usaha 0=belum pernah mengikuti pelatihan
1=sudah pernah mengikuti pelatihan
UMUR Umur perusahaan Variabel kontinyu
TEK Teknologi peralatan 0=tradisional
1=modern.
JPT Jaringan dengan pembeli terbesar 1=sangat lemah, 2=lemah, 3=sedang, 4=kuat, 5=sangat kuat
JBB Jaringan dengan pemasok bahan baku 1=sangat lemah, 2=lemah, 3=sedang, 4=kuat, 5=sangat kuat
AKT Keaktifan promosi 0=tidak aktif berpromosi
1=cukup aktif berpromosi
2=aktif berpromosi

Pada model Binominal Logistic Regression, variabel dependen (Y) dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu : 1 = industri yang berorientasi pasar ekspor, 0 = industri yang berorientasi pasar domestik. Variabel yang diduga mempengaruhi keanggotaan grup antara yang berorientasi pasar dalam negeri dan pasar luar negeri adalah jumlah tenaga kerja, pelatihan, umur perusahaan, teknologi, jaringan pembeli, jaringan pemasok bahan baku, dan keaktifan berpromosi.

Menilai Model Fit (Goodness of Fit)

Analisis Binominal Logistic Regression digunakan untuk menganalisis model pada skenario yang telah dirancang. Menurut Ghazali (2006:79) Binominal Logistic Regression  merupakan Model yang dapat memberikan hasil estimasi yang paling baik, dalam arti tingkat signifikansi statistik, kesesuaian tanda koefisien parameter hasil estimasi dengan teori atau kesesuaian implikasinya di lapangan dipilih sebagai model yang sesuai (best fit)  untuk penelitian ini. Hipotesis untuk menilai model fit adalah H0 : Model fit dengan data dan H1 : Model tidak fit dengan data. Pengolahan dan analisis data penelitian menggunakan bantuan paket program komputer SPSS 15.0 for Windows.

Uji Kelayakan Model

Untuk menentukan justifikasi statistik kelayakan model (Goodness of Fit), dilakukan uji Hosmer and Lameshow dengan pendekatan metode Chi Square (X2). Apabila nilai signifikansi > 0,05, maka model itu sudah memenuhi (fit). Sebaliknya jika nilai signifikansi < 0,05, maka model tersebut tidak memenuhi.

Uji kelayakan secara keseluruhan (Overall Fit Test)

Uji likelihood ratio statistik (LR stat) mirip dengan uji F pada OLS biasa, yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen terhadap variabel dependen. Dilihat dari nilai -2 log likelihood. Nilai -2 log likelihood yang semakin rendah dibandingkan dengan nilai awal, menunjukkan bahwa model akan semakin fit secara keseluruhan. Goodness of fit model pada model regresi logistik dilihat berdasarkan nilai Percentage of Correct Prediction dan nilai koefisien Chi-Square ( X2 ). Analisis Logistic Regression ini akan mencari model yang terbaik (best fit model). Ketentuan untuk menolak H0 ditentukan melalui probabilita LR stat (P-Value) dengan pengambilan keputusan sebagai berikut :

Jika P value > 0,05 maka H0 diterima

Jika P value < 0,05 maka H1 ditolak

Uji Hipotesis secara Parsial

Uji secara parsial bertujuan menghubungkan 2 atau lebih variabel bebas dengan variabel terikat dengan membandingan antara nilai signifikansi setiap variabel dengan taraf nyata 5%. Apabila nilai signifikansi < 5%, maka variabel bebas tersebut berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat, berlaku pula sebaliknya. Apabila nilai B di Variables In the Equation pada variabel bebas adalah positif (+), maka variabel bebas tersebut berpengaruh signifikan positif (+) terhadap variabel terikat, berlaku pula sebaliknya.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data Diskriptif Responden

Jumlah total responden dalam penelitian ini sebanyak 38 orang.  Jumlah responden tersebut mewakili seluruh populasi industri keripik tempe sanan di kota Malang.  Karakteristik biografis responden yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi umur, Jenis kelamin, agama, pendidikan, penghasilan pemilik industri jabatan,  pendidikan karyawan.  Secara umum data karakteristik biografis dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

  1. Umur responden

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan umur dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 3 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur

Umur Frekuensi Persentese (%)
21 – 30 tahun 7 18,4
31 – 40 tahun 15 39,5
41 – 50 tahun 8 21,1
51 – 60 tahun 7 18,4
> 60 tahun 1 2,6
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 3 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah berumur antara 31 – 40 tahun yaitu sebanyak 15 orang (39,5%), responden yang termasuk umur 41 – 50 tahun sebanyak 8 orang (21,1%) responden yang termasuk umur 21 – 30 tahun dan 51 – 60 tahun masing-masing sebanyak 7 orang (18,4%), dan sisanya 1 orang (2,6%) adalah responden yang termasuk umur antara > 60 tahun

  1. b. Jenis kelamin responden

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan jenis kelamin responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis kelamin

Jenis kelamin Frekuensi Persentese (%)
Laki-laki 11 28,9
Perempuan 27 71,1
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 4 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden terdapat sebagian besar 27 orang (71,1%) responden yang berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya adalah 11 orang (28,9%) responden yang berjenis kelamin laki-laki

  1. Agama responden

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan agama responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 5 Karakteristik Responden Berdasarkan Agama

Agama Frekuensi Persentese (%)
Islam 38 100
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 5 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden semuanya (100%) beragama

  1. d. Status kepemilikan

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan jabatan responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jabatan

Jabatan Frekuensi Persentese (%)
Pemilik 38 100
Total 38 100

   Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 6 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden semuanya (100%) menjabat sebagai pemilik.

  1. e. Tingkat pendidikan pemilik usaha

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 7 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Pendidikan Frekuensi Persentese (%)
SMP 1 2,6
SMP 6 15,8
SMU 21 55,3
Diploma 1 2,6
S1 2 5,3
S2 7 18,4
Total 38 100

     Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 7 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki pendidikan SMU yaitu sebanyak 21 orang (55,3%), responden yang berpendidikan S2 sebanyak 7 orang (18,4%), responden yang berpendidikan SMP sebanyak 6 orang (15,8%) dan sisanya berpendidikan SD, diploma dan S1 sebanyak 4 orang

  1. f. Tingkat pendidikan karyawan

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Pendidikan karyawan dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 8 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan karyawan

Pendidikan karyawan Frekuensi Persentese (%)
SMP 7 18,4
SMU 6 15,8
Diploma 25 65,8
Total 38 100

   Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 8 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah menjawab diploma yaitu sebanyak 25 orang (65,8%), responden yang berpendidikan SMP sebanyak 7 orang (18,4%) dan sisanya berpendidikan SMU sebanyak 6 orang (15,8%).

  1. g. Tingkat pendapatan

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan penghasilan dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 9 Karakteristik Responden Berdasarkan Penghasilan

Pendidikan Frekuensi Persentese (%)
1-2 juta 15 39,5
2-5 juta 20 52,6
5-10 juta 3 7,9
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 9 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki penghasilan 2-5 juta yaitu sebanyak 20 orang (52,6%), responden yang berpenghasilan 1-2 juta sebanyak 15 orang (39%) dan sisanya memiliki penghasilan 5-10 juta sebanyak 3 orang (7,9%).

Analisis Deskriptif

Dalam penelitian ini, analisis deskriptif digunakan untuk menjelaskan masing-masing variabel dalam penelitian yaitu tentang data khusus responden terkait dengan variabel yang digunakan yaitu orientasi pasar, apakah berorientasi domestik atau ekspor, umur usaha, jumlah karyawan yang dimiliki oleh setiap responden, badan hukum unit usaha, pelatihan karyawan, alat teknologi yang dipakai untuk berproduksi, jaringan dengan pembeli besar, jaringan dengan pemasok bahan baku dan promosi.

  1. Berdasarkan orientasi pasar

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Orientasi pasar dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 10 Karakteristik Responden Berdasarkan Orientasi pasar

Orientasi pasar Frekuensi Persentese (%)
Pasar domestik 30 78,9
Ekspor 8 21,1
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 10 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki orientasi pasar domestik yaitu sebanyak 30 orang (78,9%) dan sisanya memiliki orientasi pasar ekspor sebanyak 8 orang (21,1%).

  1. Berdasarkan umur usaha

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Umur usaha dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 11 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur usaha

Umur usaha Frekuensi Persentese (%)
1-10 tahun 19 50
11-20 tahun 16 42,1
21-30 tahun 3 7,9
Total 38 100

   Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 11 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah menjawab 11-20 tahun yaitu sebanyak 16 orang (42,1%), responden yang memiliki umur usaha 1-10 tahun sebanyak 19 orang (50%) dan sisanya memiliki umur usaha 21-30 tahun sebanyak 3 orang (7,9%).

  1. Berdasarkan Jumlah karyawan

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Jumlah karyawan dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 12 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah karyawan

Jumlah karyawan Frekuensi Persentese (%)
1-10 orang 35 92,1
11-20 orang 3 7,9
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 12 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki jumlah karyawan 1-10 orang yaitu sebanyak 35 orang (92,1%) dan sisanya memiliki jumlah karyawan 11-20 orang sebanyak 3 orang (7,9%).

  1. Berdasarkan badan hukum usaha

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Badan hukum yang dimiliki oleh setiap unit usaha dalam industri keripik tempe sanan Malang, dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 13 Karakteristik Responden Berdasarkan Badan hukum

Badan hukum Frekuensi Persentese (%)
Ada 7 18,4
Belum ada 31 81,6
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 13 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah tidak memiliki badan hukum yaitu sebanyak 31 orang (81,6%) dan sisanya memiliki badan hukum sebanyak 7 orang (18,4%).

  1. Berdasarkan pelatihan

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Pelatihan dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 14 Karakteristik Responden Berdasarkan Pelatihan

Pelatihan Frekuensi Persentese (%)
Pernah 27 71,1
Tidak pernah 11 28,9
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 14 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah pernah mengikuti pelatihan yaitu sebanyak 27 orang (71,1%) dan sisanya tidak pernah mengikuti pelatihan sebanyak 11 orang (28,9%).

  1. Berdasarkan teknologi

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Teknologi dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 15 Karakteristik Responden Berdasarkan Teknologi

Teknologi Frekuensi Persentese (%)
Tradisional 35 92,1
Modern 3 7,9
Total 38 100

   Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 15 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki teknologi tradisional yaitu sebanyak 35 orang (92,1%) dan sisanya memiliki teknologi modern sebanyak 3 orang (7,9%).

  1. Berdasarkan jaringan dengan pembeli besar

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Jaringan dengan pembeli besar dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 16 Karakteristik Responden Berdasarkan Jaringan dengan pembeli besar

Jaringan dengan pembeli besar Frekuensi Persentese (%)
Sangat lemah 2 5,3
Lemah 2 5,3
Sedang 16 42,1
Kuat 8 21,1
Sangat kuat 10 26,3
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 16 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki jaringan dengan pembeli besar dengan kategori sangat lemah sebanyak 2 orang responden (5.3%), lemah sebanyak 2 orang responden (5.3%), sedang yaitu sebanyak 16 orang responden (42,1%), kuat 8 orang responden (21.1%) dan kategori sangat kuat 10 orang responden (26.3%).

  1. Berdasarkan Jaringan dengan pemasok bahan baku

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Jaringan dengan pemasok bahan baku dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 17 Karakteristik Responden  Berdasarkan Jaringan dengan pemasok bahan baku

Jaringan dengan pemasok bahan baku Frekuensi Persentese (%)
Sangat lemah 4 10,5
Sedang 10 26,3
Kuat 14 36,8
Sangat kuat 10 26,3
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 17 tersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah memiliki jaringan dengan pemasok bahan baku dengan kategori Sangat lemah 4 orang (10.4%), Sedang 10 orang (26.3), kuat yaitu sebanyak 14 orang (36,8%), dan sangat kuat 10 orang responden (26.3%).

  1. Berdasarkan promosi

Hasil tabulasi data melalui distribusi frekuensi berdasarkan Promosi dari hasil penyebaran kuesioner kepada para responden memiliki karakteristik sebagai berikut:

Tabel 18 Karakteristik Responden Berdasarkan Promosi

Promosi Frekuensi Persentese (%)
tidak aktif 21 55,3
cukup aktif 14 36,8
sangat aktif 3 7,9
Total 38 100

    Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan tabel 18 ersebut dapat diketahui bahwa dari 38 orang responden sebagian besar adalah tidak aktif dalam berpromosi yaitu sebanyak 21 orang (55,3%), responden yang memiliki promosi cukup aktif sebanyak 14 orang (36,8%) dan sisanya memiliki promosi sangat aktif sebanyak 3 orang (7,9%).

Analisis Klaster

Dalam penelitian ini, identifikasi pola klaster menggunakan model analisis klaster Markussen (1996) yaitu dengan mengidentifikasi jenis klaster dari berbagai variabelnya yaitu struktur bisnis dan skala ekonomi, keputusan investasi, jaringan kerjasama dengan pemasok, jaringan pengusaha dalam klaster, jaringan pengusaha diluar klaster, pasar dan migrasi tenaga kerja, keterkaitan budaya lokal, tempat meminjam dana, peranan pemerintah, dan asosiasi tempe dan tahu.

Markussen menggunakan empat pola klaster yang selanjutnya dijadikan acuan untuk mengidentifikasi jenis klaster yang selama ini terjadi pada industri kecil dan menengah di industri keripik tempe Sanan Malang. Adapun identifikasi pola klaster Markussen dapat dijelaskan dalam gambar 4.1

Gambar 2 Identifikasi Pola Klaster Markussen

Sumber: Markussen (1996)

Tahap selanjutnya adalah dilakukan identifikasi pola klaster industri keripik tempe sanan Kota Malang berdasarkan variabel-variabel yang digunakan oleh Markussen yaitu.

Tabel 19 Identifikasi pola klaster Industri Keripik Tempe Sanan Kota Malang

No Variabel Keterangan
1 Struktur bisnis dan skala ekonomi Merupakan Industri Kecil dan Rumah Tangga
2 Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku Kuat
3 Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster Kuat
4 Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster Lemah
5 Pasar dan Migrasi tenaga kerja Tersediakan dari masyarakat sekitar Industri
6 Keterkaitan identitas budaya lokal Masing-masing pengusaha mempunyai ciri khas produknya
7  Unit/ tempat peminjaman dana Ada
8 Peranan pemerintah lokal Kuat
9 Peranan asosiasi perdagangan Ada Asosiasi Dagang

Sumber: data primer 2013 (diolah)

Dari tabel 19 tersebut, selanjutnya dapat digunakan untuk menjelaskan pola klaster yang terjadi di industri keripik tempe Sanan Kota Malang, sebagai berikut:

Gambar 4 Pola Klaster Industri Keripik Tempe Sanan Kota Malang

Keterangan: on call

= Pemasok Bahan Baku

  • = Pengusaha Keripik Tempe Sanan
  • = Pemasok produk Setengah jadi

Pada gambar 4 tersebut dapat dijelaskan bahwa para pengusaha keripik tempe mendapat input dari dua sisi, sisi pertama input berupa kedelai diperoleh dari Amerika Seikat melalui koperasi tempe dan tahu sanan (Koperasi Primkopti), disisi lain, para pengusaha tersebut juga memperoleh produk setengah jadi dari IKM disekitar industri yang selanjutnya diolah/didesain oleh pengusaha keripik menjadi produk keripik tempe. Selanjutnya, pola klaster tersebut (gambar 4) menjadi penjelas bagi industri klaster keripik tempe Sanan Malang berikut:

Tabel 20 Matrik Pola Klaster Markussen di industri keripik tempe Kanan

No Variabel Distrik Marshallian Hub And Spoke
1 Struktur bisnis dan skala ekonomi X
2 Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku X X
3 Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster X X
4 Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster X X
5 Pasar dan Migrasi tenaga kerja X X
6 Keterkaitan identitas budaya lokal X X
7  Unit/ tempat peminjaman dana X
8 Peranan pemerintah lokal X
9 Peranan asosiasi perdagangan X

Sumber: data primer 2013 (diolah)

Dari tabel 20 dapat dijelaskan bahwa pola klaster yang diteliti cenderung mengikuti pola Distrik Marshallian dan Hub Spoke. Distrik Marshallian meliputi Struktur bisnis dan skala ekonomi dimana industri keripik tempe sanan Didominasi oleh usaha kecil dan Skala ekonominya relatif rendah, Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku Jangka panjang antara pembeli dengan pemasok bahan baku lokal, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster Relatif lemah,  Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster Rendah,  Pasar dan Migrasi tenaga kerja Pasar tenaga kerja internal ke distrik lebih fleksibel dan migrasi masuk ke industri tinggi, Keterkaitan identitas budaya lokal Terjadi evolusi  kebudayaandan pertalian lokal, Unit/ tempat peminjaman dana Keberadaan unit tempat peminjaman dana terdapat di dalam daerah, Peranan pemerintah lokal Peran kuat dari pemerintah lokal dalam regulasi dan promosi industri inti dan Peranan asosiasi perdagangan Kuat terhadap asosiasi perdagangan dan terdapat kerjasama tinggi dengan perusahaan kompetitoruntuk berbagi resiko dan stabilisasi pasar.

Sedangkan yang mengikuti klaster Hub and Spoke adalah Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster, Pasar dan Migrasi tenaga kerja dan Peranan asosiasi perdagangan.

Hasil Uji Instrumen Penelitian

  1. Analisis Regresi Logistik
  2. Pengujian Goodness of Fit Model

            Karena variabel dependen berbentuk nominal maka pengujian terhadap hipotesis dilakukan menggunakan uji regresi logistik dengan α = 5%. Sebelum digunakan dan dibahas lebih lanjut, model regresi logistik yang telah didapatkan dari hasil penghitungan, perlu diuji kebaikan modelnya (goodness of fit). Terdapat 3 cara dalam melakukan pengujian goodness of fit model regresi logistik yaitu pengujian kelayakan model regresi menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of fit Test, menilai keseluruhan model (overall model fit) serta menilai kelayakan dari koefisien determinasi

  1. Menguji Kelayakan Model Regresi dengan Menggunakan Hosmer and Lemeshow

Pengujian kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of fit Test. Jika nilai statistik Hosmer and Lemeshow’s Goodness of fit Test lebih besar daripada 0,05 maka model dapat disimpulkan mampu memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena sesuai dengan data observasinya (Ghozali, 2005). Hasil pengujian dengan meenggunakan Hosmer and Lemeshow’s Test ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 21

Hosmer and Lemeshow’s Test

                              Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasarkan hasil pada tabel 21 di atas, pengujian menunjukkan milai Chi-square sebesar 7,344 dengan signifikansi (p) sebesar 0,500. Berdasarkan hasil tersebut, karena nilai signifikansi (p) lebih besar dari 0,05 maka model regresi logistik disimpulkan mampu memprediksi nilai observasinya.

  1. Menilai Keseluruhan Model (overall model fit)

Langkah selanjutnya adalah menguji keseluruhan model (overall model fit). Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai -2 Log Likelihood (-2LL) pada awal (Block Number = 0) dengan nilai -2 Log Likelihood (-2LL) pada akhir (Block Number = 1). Adanya pengurangan nilai antara -2LL awal (initial 2LL function) dengan -2LL pada langkah berikutnya (-2LL akhir) menunjukkan bahwa model yang dihipotesiskan fit dengan data (Ghozali, 2005).

Tabel berikut ini menunjukkan hasil perbandingan antara -2LL awal dengan -2LL akhir.

Tabel 22 Perbandingan Nilai -2LL Awal dengan Nilai -2LL Akhir

No -2LL Nilai
1 Awal (block 0) 39,289
2 Akhir (block 1) 16,944

Sumber: Data Primer (diolah) 2013

Berdasrkan tabel 22 di atas, nilai-2LL awal adalah sebesar 39,289. Setelah dimasukkan keenam variabel independen maka nilai -2LL akhir mengalami penurunan menjadi sebesar 16,944. Penurunan likelihood (-2LL) ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan telah memiliki kesesuaian dengan data.

  1. Koefisien Determinasi (R2)

Besarnya koefisien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R square dapat diinterpretasikan seperti nilai R square pada regresi berganda.

Hasil perhitungan besarnya nilai Nagelkerke R square ditunjukkan pada tabel berikut ini.

Tabel 23 Nagelkerke R Square

Sumber: Data Primer (diolah) 2013

 

Hasil output pengolahan data nilai Nagelkerke R Square menghasilkan nilai sebesar 0,688 yang berati variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 68,8%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain diluar model penelitian.

  1. Pembentukan Model Regresi Logistik

            Model regresi logistik merupakan regresi antara variabel dependent yang bersifat kategorik (nominal atau ordinal) dengan variabel independent yang bersifat numeric atau kategorik. Ringkasan model regresi logistik yang didapatkan adalah sebagai berikut:

Tabel 24 Hasil Ringkasan Model Regresi Logistik

Variabel Independent B Wald Sig. Keterangan
Umur_usaha 0,495 5,019 0,025 Signifikan
Jumlah_karyawan -0,031 0,030 0,863 Tidak Signifikan
Badan_hukum 4,388 3,037 0,081 Tidak Signifikan
Pelatihan -18,665 0,000 0,998 Tidak Signifikan
Teknologi -1,312 0,335 0,563 Tidak Signifikan
Jaringan_pembeli_besar 0,694 0,542 0,462 Tidak Signifikan
Jaringan_pemasok_bahan -0,142 0,052 0,820 Tidak Signifikan
Promosi 3,674 4,908 0,027 Signifikan
Constant -3,753 0,000 1,000 Tidak Signifikan

Sumber: Data Primer (diolah) 2013

  1. Pengujian Hipotesis Model Regresi Logistik

Pengujian terhadap hipotesis bertujuan untuk membuktikan pengaruh umur usaha, jumlah karyawan, badan hukum, pelatihan, teknologi, jaringan pembeli besar, jaringan pemasok bahan baku dan promosi terhadap orientasi pasar.

Berdasarkan model regresi yang terbentuk pada tabel di atas, hasil pengujian terhadap hipotesis dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. H1 : Umur usaha berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel umur usaha menunjukkan koefisien regresi positif sebesar 0,495 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,025. Karena signifikansi (p) < α 0,05 maka hipotesis ke-1 berhasil didukung. Hasil tersebut menunjukkan bahwa umur usaha berpengaruh signifikan terhadap pemilihan orientasi pasar.

  1. H1 : Jumlah karyawan berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel jumlah karyawan menunjukkan koefisien regresi negatif sebesar 0,031 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,863. Karena signifikansi (p) lebih besar dari α 0,05 maka hipotesis ke-2 ini tidak dapat diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah karyawan tidak berpengaruh terhadap orientasi pasar. Maksud dari pernyataan ini adalah tinggi rendahnya jumlah karyawan perusahaan tidak akan berpengaruh terhadap apakah perusahaan tersebut memilih orientasi pasar domestik atau ekspor.

  1. H1 : Badan hukum berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel badan hukum menunjukkan koefisien regresi positif sebesar 4,388 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,081. Karena signifikansi (p) lebih besar dari α 0,05 maka hipotesis ke-3 ini tidak dapat diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa badan hukum tidak berpengaruh terhadap orientasi pasar. Maksud dari pernyataan ini adalah ada atau tidak adanya badan hukum perusahaan tidak akan berpengaruh terhadap apakah perusahaan tersebut memilih orientasi pasar domestik atau ekspor.

  1. H1 : Pelatihan berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel pelatihan menunjukkan koefisien regresi negatif sebesar 18,665 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,998. Karena signifikansi (p) lebih besar dari α maka hipotesis ke-4 ini tidak dapat diterima. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pelatihan tidak berpengaruh terhadap orientasi pasar. Maksud dari pernyataan ini adalah ikut atau tidaknya pelatihan tidak akan berpengaruh terhadap apakah perusahaan tersebut memilih orientasi pasar domestik atau ekspor.

  1. H1 : Teknologi berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel Teknologi menunjukkan koefisien regresi yang negatif yaitu sebesar 1,312 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,563. Karena signifikansi (p) lebih kecil dari α maka hipotesis ke-5 tidak berhasil didukung. Hasil tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak berpengaruh signifikan terhadap perusahaan dalam memilih orientasi pasar domestik atau ekspor.

  1. f. H1 : Jaringan pembeli besar berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel jaringan pembeli besar menunjukkan koefisien regresi positif sebesar 0,694 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,462. Karena signifikansi (p) lebih besar dari α maka hipotesis ke-6 tidak berhasil didukung. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jaringan pembeli besar tidak berpengaruh signifikan terhadap orientasi pasar.

  1. g. H1 : Jaringan pemasok bahan baku berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel jaringan pemasok bahan baku menunjukkan koefisien regresi negatif sebesar 0,142 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,820. Karena signifikansi (p) lebih besar dari α maka hipotesis ke-7 tidak berhasil didukung. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jaringan pemasok bahan baku tidak berpengaruh signifikan terhadap orientasi pasar.

  1. h. H1 : Promosi berpengaruh terhadap orientasi pasar

Variabel promosi menunjukkan koefisien regresi positif sebesar 3,674 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,027. Karena signifikansi (p) lebih kecil dari α maka hipotesis ke-8 berhasil didukung. Hasil tersebut menunjukkan bahwa promosi berpengaruh signifikan terhadap orientasi pasar.

Pembahasan

Industri keripik tempe sanan merupakan salah satu dari beberapa industri yang berada di Kota Malang Jawa Timur. Seiring waktu, Industri ini berkembang dengan pesat, setidaknya ada 5 alasan mengapa industri ini berkembang dengan cepat. Pertama, karena produk yang dihasilkan merupakan makanan ringan yang sekaligus menjadi makanan pokok masyarakat sehingga sangat mudah diterima. Kedua, bahan baku berupa kedelai sangat mudah diperoleh baik kedelai lokal maupun kedelai impor (Amerika). Ketiga, Dukungan pemerintah sangat baik, seperti pelatihan, peraturan yang mendukung kegiatan usaha dll. Ke-empat, peran asosiasi yang besar. Dan kelima, peran lembaga keuangan.

Industri keripik tempe di Kota Malang menjadi produk unggulan. Hal ini karena pelaku industri keripik tempe di Kota Malang telah melaksanakan prinsip kriteria ramah lingkungan. Langkah yang dilakukan yaitu: prinsip pencegahan pencemaran (pollution prevention), prinsip pengendalian pencemaran (pollution control), prinsip remediasi atau pemulihan (remediation) (Yusriansyah, 2012). Ketiga prinsip ini telah dijalankan dengan baik oleh pelaku industri keripik tempe di Kota malang karena para pelaku juga memperhatikan tentang kebersihan produk serta eksistensi mereka dalam industri keripik tempe di Kota Malang agar keripik tempe tetap menjadi produk unggulan di Kota Malang. Sebagai produk unggulan di Kota Malang, industri keripik tempe mempunyai pasar yang mencapai skala regional, nasional, dan beberapa respoden juga menyatakan jika industri keripiknya telah mencapai tingkat internasional, khususnya di Amerika Serikat.

Sedangkan karakteristik Industri keripik tempe di Kota Malang memiliki karakteristik tersendiri. Industri ini berdiri disepanjang jalan raya, di samping rumah penduduk, dan berbentuk industri kerajinan rumahtangga. Karakteristik ini dapat ditunjukkan dengan perbedaan kualitas produk, lokasi daerah pemasaran tiap industri, promosi, harga. Selain itu, terdapat penurunan pada industri keripik tempe. Hal ini terjadi antara lain tidak semua industri dapat melakukan promosi melalui media cetak, elektronik, ataupun internet, masalah aksesibilitas atau keterjangkauan dalam melakukan pemasaran ataupun distribusi produk yang membutuhkan biaya lebih dan alat transportasi yang memadai, pemasaran yang tidak merata karena terdapat beberapa industri kripik tempe yang kurang inovatif dan kreatif dalam meracik produknya. Sehingga kurang begitu diminati di pasaran

Dari sisi produksinya, para pengusaha di industri keripik tempe sanan merupakan industri kecil yang saling mendukung satu sama lain.

Dalam konteks yang hampir sama dengan penelitian ini, penelitian yang dilakukan oleh Kuncoro dan (2003) yang berjudul Analisis Formasi Keterkaitan, pola Klaster dan Orientasi Pasar : Studi Kasus Sentra Industri Keramik Kasongan, Kab. Bantul, DIY Menganalisis pola klaster yang diajukan oleh (Markusen, 1996) berdasarkan studinya di Amerika Serikat, dengan tujuan untuk mengetahui formasi keterkaitan dan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi pasar domestik atau ekspor dengan menggunakan alat analisis Binary Logistic Regression. Adapun hasil dari penelitiannya adalah bahwa Pola kluster Kasongan mengikuti sebagian pola kluster Marhallian dan Hub and Spoke. Sedangkan Berdasarkan analisis regresi logistik, bahwa variabel aktifitas berpromosi, teknologi, jumlah tenaga kerja dan umur perusahaan sangat berpengaruh dalam menentukan orientasi pasar industri keramik Kasongan.

Hal yang membedakan dengan penelitian tersebut terletak pada alat teknologi yang digunakan oleh pengusaha keripik tempe Sanan, dimana mayoritas alat teknologi yang digunakan masih sederhana, sedangkan penelitian kuncoro alat teknologinya sudah modern. Disamping itu, dari aspek orientasi pasarnya industri keripik tempe Sanan juga didominasi pasar domestik dari pada pasar luar negeri.

 KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil penelitian Analisis Pola Klaster dan Orientasi Pasar (studi kasus pada industri keripik tenpe sana Kota Malang, 2013 menunjukkan bahwa:

  1. Pola Klaster pada industri keripik tempe sanan Kota Malang cenderung mengikuti pola Distrik Marshallian dan Hub Spoke. Distrik Marshallian meliputi Struktur bisnis dan skala ekonomi, Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster,  Pasar dan Migrasi tenaga kerja, Keterkaitan identitas budaya lokal, Unit/ tempat peminjaman dana, Peranan pemerintah lokal dan Peranan asosiasi perdagangan.
  2. Berdasarkan analisis pola klaster, maka dapat disimpulkan bahwa industri keripik tempe sanan kota Malang cenderung mengikuti pola Distrik Marshallian dan Hub Spoke. Distrik Marshallian meliputi Struktur bisnis dan skala ekonomi dimana industri keripik tempe sanan Didominasi oleh usaha kecil dan Skala ekonominya relatif rendah, Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku Jangka panjang antara pembeli dengan pemasok bahan baku lokal, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster Relatif lemah, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster Rendah,  Pasar dan Migrasi tenaga kerja Pasar tenaga kerja internal ke distrik lebih fleksibel dan migrasi masuk ke industri tinggi, Keterkaitan identitas budaya lokal Terjadi evolusi  kebudayaandan pertalian lokal, Unit/ tempat peminjaman dana Keberadaan unit tempat peminjaman dana terdapat di dalam daerah, Peranan pemerintah lokal Peran kuat dari pemerintah lokal dalam regulasi dan promosi industri inti dan Peranan asosiasi perdagangan Kuat terhadap asosiasi perdagangan dan terdapat kerjasama tinggi dengan perusahaan kompetitoruntuk berbagi resiko dan stabilisasi pasar. Sedangkan yang mengikuti klaster Hub and Spoke adalah Kontrak dan komitmen antara pembeli dengan pemasok bahan baku, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha dalam klaster, Kerjasama dan keterkaitan antar sesama pengusaha luar klaster, Pasar dan Migrasi tenaga kerja dan Peranan asosiasi perdagangan.
  3. Berdasarkan analisis regresi logistik dapat diseimpulkan bahwa Umur perusahaan dan promosi berpengaruh dalam menentukan orientasi pasar industri keripik tempe sanan Malang. Dengan kata lain, semakin tua usia perusahaan maka semakin berpengaruh, dan semakin aktif berpromosi/mengiklankan produknya maka akan berpengaruh terhadap orientasi pasar.

 Saran

Industri keripik tempe Sanan Kota Malang merupakan ikon bagi Kota Malang itu sendiri,  Sebagai salah satu industri kecil dan menengah, industri keripik Sanan telah mampu membantu pembangunan Kota Malang hanya saja pola yang dikembangkan selama ini masih cenderung tradisional oleh sebab itu pemerintah Kota Malang khususnya dinas UMKM berkepentingan untuk meningkatkan perhatiannya kepada industri ini. Melihat hasil penelitian ini ada beberapa yang perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah Kota Malang yaitu masalah soft skill, finansial, kelembagaan maupun pemasarannya.

 DAFTAR PUSTAKA

Afifah, (2013) Orientasi Pasar Usaha Kecil Menengah Bordir Bukittinggi. Menara Ilmu,Vol. III No.36 Mar 2013

Aminudin, T (2003), Studi pengembangan industri kecil di Daerah Istimewa Yogyakarta, http://pl.lib.itb.ac.id

Ayyagari, M., (2003), Small and medium enterprises across the Globe, Policy Research Working Paper, The Work Bank.

BPS, (2012). Profil Industri Kecil dan Kerajinan Rumah Tangga, 2012, Jakarta

Berry, A., Rodriguez, E., & Sandeem, H. (2001). Small and Medium Enterprises Dynamics In Indonesia. Bulletin of Indonesian Economic Studies 37 (3): 363-384.

Choirunnisa, Rizka, (2012). Analisis Pola Klaster Dan Orientasi Pasar (Sentra Industri Kerajinan Logam Desa Tumang Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali). Skripsi, unplished. eprints.undip.ac.id/26210

Enright, M., 1996. Regional clusters and firm strategy, in Business Networks: Prospects for Regional Development, Eds. U. Staber, N. Schaefer & B. Sharma, de Gruyter, Berlin and New York, pp. 190–213.

Enright, M., (1998). Regional clusters and firm strategy, in The Dynamic Firm: The Role of Technology, Strategy, Organisation, and Regions, Eds. J. Chandler, A.D.. Ö Sölvell & P. Hagström, Oxford University Press, Oxford.

Enright, M., (2000). The globalisation of competition and the localisation of competitive advantage: Policies towards regional clustering, in The Globalisation of Multinational Enterprise Activity and Economic Development, Eds. N. Hood & S. Young, McMillian Press, Basingstoke pp. 303–31

Garcia, J.G, (2000). Indonesia’s Trade and Price Intervention: Pro-Java and Pro-Urban. Bulletin of Indonesian Economic Studies, 36 (3), 93-112.

Ghazali, Imam, (2006). Analisis Multivariat Lanjutan dengan Program.BP. Universitas Diponegoro, Semarang.

Gray, B.J., Matear, S. & Matheson, P.K. (2002). Improving Service Firm Performance. Journal Of Service Marketing,. Vol. 16. No.3, 186-200.

Hasiru, Roy dkk. (2010) Studi Kelayakan Klaster Rumput Laut di Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Inovasi Gorontalo Vol. V No. 3

Hartelina, (2013). Analisis Tingkat Orientasi Pasar, Inovasi Organisasi, Pangsa Pasar Dan Profitabilitas. http://www.academia.edu/4751053

Hitt, MA., Ireland. R.D and R.E., Hoskisson (2001). Manajemen Strategis Edisi Daya Saing Globalisasi,  Jilid I & II. Jakarta: Salemba Empat.

Kohli, A.K. & Jaworski, B.J. (1990). Market Orientation: The construct, Research Propositions, and Managerial Implications. Journal of Marketing, 54 (April), 1-18.

Nusantoro, Juwoto, (2011). Model Pengembangan Produk Unggulan Daerah Melalui Pendekatan Klaster di Provinsi Lampung, Makalah Seminar Nasional Ilmu Ekonomi Terapan FE-UNIMUS

Kotler, Philip. (1980). Manajemen Pemasaran: Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Kontrol. Edisi Revisi. PT. Prenhallindo, Jakarta

Kuncoro, M, (2002). Otonomi dan Pembangunan Daerah: Reformasi, Perencanaan, Strategi dan Peluang. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Kuncoro, M, (2002). Analisis Spasial dan Regional: Studi Aglomerasi dan Kluster Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP-AMP YKPN.

Kuncoro, M, dan Irwan (2003). Analis Formasi Keterkaitan, Pola Kluster, dan Orientasi Pasar: Studi Kasus Sentra Industri Keramik di Kasongan, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta, Jurnal Empirika, Volume 16, No. 1 Juni 2003.

Kuncoro, M, (2003). Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi. Penerbit Erlangga. Jakarta

Lestari, Etty Puji, (2010) Penguatan Ekonomi Industri Kecil Menengah Melalui Platform Klaster Industri. Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volume 6, No. 2 September 2010, 146-157

Marijan, Kacung. (2005). Mengembangkan Industri Kecil Menengah Melalui Pendekatan Klaster. INSAN Vol. No. 3. Desember, 206-225.

Markusen, A. (1996). Sticky Places in Slippery Space: A Typology of Industrial Districts. Economic Geography, 72 (3), 293.

Marshall, A., (1920). Principles of Economics, 8, MacMilland and Co., London

Meier, Gerald M., (1995). Leading Issues in Economic Development, Edisi ke-6, Oxford University Press, New York, Bab I.

Schmitz, H. and Musyck, B., (1994). Industrial Districts in Europe: Policy Lessons for Developing Countries?, World Development, 22 (6), 889–910

Schmitz, H. And Nadvi, K, 1999. “Clustering and Industrialization: Introduction. World Development, 27 (9): 1503-14.

Sugiyono, (2005). Memahami Penelitian Kualitatif, Alfabeta, Bandung

Sumodiningrat, Gunawan, (2002). Ekonomika: Pengantar. Edisi 2003/2004. BPFE Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Supratikno, H., (2004). ‘The development of SME Clusters in Indonesia’, dalam D. Hew and L.W. Nee (eds), Entrepreneurship and SMEs in Southeast Asia, ISEAS, Singapore:119-30.

Sujadi, Priyono, Edi., & Fareshti N.D., (2008).  Membangun Sinergi Bagi Pengembangan Produk Ukm Berbasis Ekspor Di Klaster Ukm, Serenan, Klaten. Seminar Nasional Aplikasi Sains dan Teknologi 2008 – IST AKPRIND Yogyakarta. 142-151

Tambunan, T, (1998). Clusters and the New Economics of Competition. Harvard Business Review, Nopember-December (6), 77-91.

Tambunan, T, (1998).Perkembangan Industri Skala Kecil di Indonesia. Jakarta: PT. Mutiara Sumber Wijaya.

Wahyudiono, (2007) Pengaruh Orientasi Pasar dan Orientasi Teknologi Terhadap Inovasi Berkelanjutan dan Kinerja Perusahaan Cunsomer Goods di Surabaya, Jurnal Sains dan Pemasaran

Widyasari, Winda Wahyu, (2013). Identifikasi struktur Pasar dan Implikasinya Terhadap Pembentukan Harga: studi kasus pada sentra industri keripik tempe sanan malang. Jurnal ilmiah FE UB. Unpublished.

Wignjosoebroto, Sritomo (2003). Pengantar Teknik dan Manajemen Industri. Guna Widya. Surabaya

Yusriansyah, M. (2012). Karakteristik Pengusaha Industri Keripik Tempe Berbasis Produk Unggulan Di Kota Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *