PELUANG PENCALONAN GUS IPUL DAN ANAS DI PILGUB JATIM

Setelah Ketua Umum PDIP yang sekaligus mantan presiden ke 5 Megawati Soekarno Putri mengumumkan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur pada minggu, 15 Oktober 2017 pukul 10.30, itu artinya secara resmi PDIP menetapkan pasangan Drs. H. Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) dan H. Abdullah Azwar Anas (AAA) menjadi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur yang akan di pilih pada tanggal 26 Juni 2018 dari PDIP. Terpilihnya 2 orang putera terbaik jawa timur ini tentu sudah melalui tahapan yang panjang dan tidak asal-asalan karena prestasi keduanya sungguh fantastis baik di dunia politik maupun di pemerintahan masing-masing.

Jamak sudah diketahui oleh semua, bahwa saat ini Gus Ipul termasuk incumben yang bersama Pak De Karwo telah sukses membawa jawa Timur menjadi lebih baik, pun kita Juga tahu bagaimana fenomenalnya AAA saat menjabat sebagai Bupati Banyuwangi, dengan segudang prestasinya menjadikan banyuwangi sebagai kabupaten yang mulai diperhitungkan ditingkat nasional bahkan di dunia. Orientasi pembangunan yang terfokus pada pengembangan wisata di banyuwangi menjadikan sosok bupati ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Apapun keputusan PDIP, merupakan keputusan yang terbaik yang sudah melalui kesepakatan banyak pihak termasuk para ulama dan tokoh besar di jawa timur sehingga terpilihnya dua pasangan terbaik ini diyakini mampu bersaing dengan lawannya di pilgub jawa timur sebut saja kandidat terkuat adalah Khofifah Indar Parawansa yang sudah di dukung resmi oleh Golkar dan Nasdem. Namun, penetapan dua calon dari PDIP ini bukan tanpa masalah, khususnya terkait dengan Gus Ipul yang sebelumnya sudah didukung resmi oleh PKB, partai yang dibidani oleh Gus dur ini sudah jauh sebelumnya mendukung Gus Ipul sebagai calon gubernur dari partainya tentu sudah melalui pertimbangan yang matang. Melihat kondisi yang demikian ini perlu dilihat beberapa masalah kecil yang dapat terjadi perubahan dukungan terhadap Gus ipul diantaranya.

  1. Partai Kebangkitan Bangsa(PKB) seperti yang sudah diulas sebelumnya, bahwa PKB sudah jauh hari mengusulkan Gus Ipul sebagai cagub dari partainya, sedikit akan menimbulkan reaksi dari partai yang berlambang boladunia ini. Mengapa? karena tentu PKB disamping berkepentingan dengan kadernya untuk masuk di wagub terhalangi oleh kehadliran AAA yang dipasangkan oleh PDIP dengan Gus ipul. Perlu ada komunikasi yang intens dari dua partai juara 1 dan 2 di jawa timur ini agar terselesaikan keberadaan AAA ini. Jika PKB menyetujui AAA di sandingkan dengan Gus Ipul, tentu tidak ada persoalan, namun jika sebaliknya, bahwa PKB berkepentingan di Jatim 2, maka akan muncul persoalan baru. Kemungkinannya jika tidak ada kesepakatan maka bisa jadi PKB akan menarik dukungan ke Gus Ipul dan mencalonkan sendiri Calon lain, bahkan bisa jadi akan ke
  2. Keberadaan AAA, merupakan bentuk spekulasi dari PDIP, karena Anas bukanlah kader dari partai Moncong Putih ini. Meskipun gus ipul dulu pernah di PDIP, tetapi publik tahu bahwa gus ipul muncul dan terkenal dari organisasi sebut saja Ansor (dan NU).
  3. Sekaligus penjelasan dari poin 2, bahwa kedua calon tersebut berasal dari organisasi emosional yang sama, katakanlah AAA dari NU (IPNU) dan Gus Ipul dari Ansor (yang saat ini di PBNU), memang Jatim adalah basis NU, namun demikian juga sangat banyak yang (?) dari Matraman yang jika Khofifah nanti berpasangan dengan golongan Nasionalis maka cukup beresiko bagi pasangan ini.

Setidaknya dari 3 hal tersebut, perlu disikapi dengan seksama dan bijaksana, yakni komunikasi dengan PKB dan meyakinkan publik bahwa 2 tokoh ini sangat kompeten dan profesional. Disamping meyakinkan partai politik lain, misalkan partai pendukung pemerintah seperti Nasdem, hanura dan PAN untuk bergabung di koalisi besar ini agar semakin solid dan mampu meyakinkan publik karena unsur dan mobilitas mesin politik. Mengapa demikian, karena dari kubu satunya, sebut saja Cagub Khafifah Indar parawansa akan berusaha semaksimal mungkin meyakinkan partai politik yang belum bergabung untuk bergabung mendukung nya.

Tantangan

Sejatinya keberadaan 3 tokoh ini, merupakan cermin dari organisasi bersar bernama Nahdlotul Ulama mengapa karena Gus ipul dari PBNU, Khofifah dari Muslimat NU, AAA juga dari NU……..artinya bahwa ketiga kandidat ini akan berebut suara NU yang mayoritas di jawa timur. Suara NU akan terbelah, tergantung bagaimana meyakinkan publik jawa timur ini. Bagaimana suara Nasionalis? Disini Khofifah (yang belum menentukan Cagub) berpeluang merebut suara mereka.alasannya karena yang terjadi didaerah sangat berbeda dengan pilpres misalnya, karena di daerah cenderung tidak semata karena popularitas kandidat saja tetapi juga emosional masyarakatnya.

Pada artiket selanjutnya akan mengulasa peta persaingan 2 kandidat…..simak catatan selanjutnya….

Artikel ini semata-mata pandangan subyektif penulis dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *