Demoralisasi Anak Negeri

Belum sempat selesai kasus video porno artis, dalam beberapa hari terakhir ini diberbagai media, baik cetak maupun elektronik banyak menampilkan dan menayangkan tontonan yang sangat menyesakkan hati kita. Mulai dari yang fisik sampai yang non fisik. Kasus di rempoa Jakarta Selatan baru-baru ini antara dua kubu yang bertarung dijalanan, belum sempat pertarungan reda, sudah di ikuti oleh generasinya yang masih bau kencur, tidak tanggung-tanggung empat sekolahan setingkat SMU bertarung di jalanan, juga kasus penusukan mahasiswa UMI Makasar, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang sama terjadi dibelahan nusantara ini.
Pertanyaannya adalah mengapa semua ini terjadi? Apa penyebabnya? apakah hanya fenomena alamiah semata atau apa? Dan anehnya kejadian ini terjadi berulang-ulang, bahkan seakan-akan menjadi budaya. Kalau kita lihat fakta-fakta dilapangan pelaku/aktor-nya adalah orang berpendidikan bahkan beragama. Aneh…!!! Sulit memang mencari titik temu penyelesaiannya, sebab semakin dicari titik temu dan semakin mendekati titik temu persoalan itu, maka semakin runyam dan bahkan semakin menimbulkan masalah baru lagi.

Kiranya tulisan ini mencoba melihat secara visual dampak baik langsung maupun tidak langsung dari berbagai segi tanpa menilai benar atau salah antar masing-masing kubu.
Dampak Psikologis
Undang-undang (UU) di Indonesia secara jelas mengamanatkan kepada kita semua bahwa kekerasan dengan alasan apapun baik suku, ras ataupun agama tidak dibenarkan dan dianggap melawan hukum negara, dan bagi pelakunya dikenakan sangsi atau hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebab kejadian itu jelas merugikan masyarakat secara umum. Disamping itu, atas nama UU pemerintah dapat secara tegas melarang berdirinya atau membubarkan lembaga/ormas atau organisasi apapun yang bertindak menyalahi aturan negara seperti kriminalis tersebut.
Memang secara sederhana dan kalau disikapi biasa saja kejadian kriminal atas nama kelompok atau ormas tidak akan berpengaruh bagi kelangsungan hidup masyarakat secara umum, bahkan bagi kita yang hanya membaca koran ataunpun menonton televisi, tetapi apabila kita pahami secara inklusif dan indepth bahwa kejadian semacam ini Secara langsung maupun tidak langsung akan mengganggu kondisi psikologis masyarakat secara umum। Terutama bagi anak-anak ataupun remaja yang secara biologis ”darahnya masih panas” sehingga mampu memancing emosi keremajaannya. Bagi mereka tontonan tersebut jelas menyenangkan, (katakanlah) tontonan ”tarung gratis secara masal”.
Dalam diri remaja, tindakan/perilaku emosional lebih dominan dari pada perilaku yang realistis. Kondisi yang demikian ini menyebabkan terbentuknya perilaku yang visualistik dan akan berdampak pada aktivitas nyata mereka. Dengan pengertian yang lebih sederhana dapat dikatakan bahwa apa yang dilakukan oleh remaja lebih banyak terbentuk akibat apa yang mereka lihat. Sehingga ending-nya apa yang terlihat dimata mereka akan ditiru atau dicontoh, sebab secara psikologis menjadi kebanggaan bagi para remaja, khususnya para pemuda apabila mereka bisa menunjukkan keremajaan-nya atau kejantanannya didepan orang banyak, tanpa memperdulikan dampak perilaku yang demikian ini। Hal inilah yang menurut saya paling menakutkan, karena mindset nya terbentuk secara keras akibat visualisasi tersebut.
Dampak Ekonomi
Dalam teori multiple effect, kriminalisasi massa akan berdampak luas bagi kelangsungan ekonomi secara keseluruhan, minimal dilingkungan kejadian tersebut. Hal ini akan menyebabkan kekhawatiran bagi para pelaku ekonomi, khususnya produsen untuk menginvestasikan asetnya didaerah tersebut. Bagi produsen, keamanan dan kenyamanan berinvestasi menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi. Hal ini wajar mengingat para produsen tidak mau rugi akibat kerusuhan massa, yang umumnya berdampak pada penjarahan dan bahkan pembakaran aset.
Sedangkan bagi konsumen, akan muncul sikap keengganan untuk membelanjakan uangnya ketika terjadi kerusuhan। Dan apabila sampai pada kerusuhan massal membuat kebutuhan barang atau jasa yang diinginkan oleh konsumen hilang dipasaran.
Akibatnya, dapat kita tebak dengan mudah bahwa kelangsungan ekonomi masyarakat akan terganggu karena sirkulasi ekonomi tidak lancar।
Dampak Sosial
Seperti kejadian di Jakarta beberapa hari ini, dan tentunya kejadian-kejadian yang melibatkan konflik massa di seluruh Indonesia, secara sosial kemasyarakatan berdampak secara nyata, terlebih bagi masyarakat yang tidak terlibat didalamnya, seperti contoh para perempuan, pengguna jalan, anak-anak dan lain sebagainya. Kerusuhan akan menciptakan rasa takut yang luar biasa bagi kelompok masyarakat tersebut, misalnya hanya untuk keluar rumah saja takut dan waspada.
Yang demikian ini merupakan gambaran sederhana dari beberapa kasus kriminal dengan mengatas namakan Massa dan masih banyak lagi dampak yang muncul dari kejadian tersebut.
Yang membuat saya merasa aneh adalah selama ini kita mengklaim sebagai bangsa timur yang santun, berbudaya luhur, anti kekerasan dll., terlebih lagi kita mengklaim sebagai bangsa yang beragama. Padahal tidak ada satu agama pun di Indonesia ini yang mengajarkan kepada umatnya untuk berlaku kasar, keras bahkan bermusuhan dengan orang lain. Apalagi mayoritas di negara yang gemah ripah loh jinawi ini beragama Islam, agama yang secara tegas mengajarkan kasih sayang, saling mencintai, dan tidak membenarkan memusuhi orang lain dalam keadaan damai. Dalam islam, kita hanya diajarkan untuk melawan musuh apabila mereka menyerang atau memusuhi Islam (kafir harbi), selebihnya tidak. Wallahu a’lam.

 

http://zaimmukaffi1979.blogspot.co.id/2012/06/demoralisasi-anak-negeri.html#more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *