Siapa Bilang Kita Bodoh…

“tidak ada manusia yang bodoh, selama mereka bisa mengucapkan abjad mereka masih bisa menjadi anak yang pintar, hanya saja mereka tidak mendapatkan guru yang tepat”.
(Prof. Yohanes Surya)

Pernyataan Prof. Yohanes tersebut saya dengar ketika beliau diwawancarai oleh Andy dalam acara reality show “kick Andy”. Sekilas pernyataan tersebut mengada-ngada, tetapi kalau ditelaah lebih mendalam benar juga adanya. Tuhan sendiri (hakikatnya) menciptakan manusia sebagai makhluk yang Akhsani taqwim, ulul Albab, dll, artinya bahwa, manusia diciptakan oleh Allah untuk mendapatkan kesempatan yang sama, selama manusia mau berusaha maka akan mendapatkan hasil yang diinginkannya. Sebagai ilustrasi : bahwa, seandainya ada dua orang yang sama, belajar dengan waktu yang sama, dididik oleh guru yang sama maka hasilnya akan sama atau setidaknya mendekati yang sama. Sederhana bukan? Cuma persoalannya adalah seringkali keinginan dan I’tikad manusia yang berbeda-beda dan berdampak hasil yang berbeda juga.

Dalam suatu kesempatan Prof. Yohanes menguji tentang hipotesis yang dibuatnya tersebut, yaitu dengan merekrut anak-anak paling bodoh di setiap Kabupaten di Papua untuk dididik khusus selama sembilan (9) bulan di Jakarta, hasilnya beberapa dari anak-anak Papua tersebut berhasil meraih prestasi akademik tingkat nasional bahkan satu dari mereka meraih juara fisika tingkat internasional. Dari hasil yang diperoleh tersebut Prof. Yohanes semakin yakin, jika seandainya anak-anak Indonesia didik dengan pola yang sistematik maka tidak mustahil anak-anak Indonesia meraih prestasi yang membanggakan dilevel internasional dari berbagai disiplin.

Selama ini, prestasi akademik pelajar Indonesia dilevel internasional lebih banyak didominasi dari bidang studi saintek dari pada bidang studi yang lain. Hal ini disebabkan dukungan pemerintah yang sangat kuat baik moril maupun finansial (bukan berarti pemerintah menafikan bidang lain). Maklum adanya, pemerintah mempunyai anggapan bahwa didalam menghadapi persaingan global khususnya dengan negara-negara maju tidak lain adalah kemampuan teknologi. Semakin bagus teknologi yang dimiliki oleh suatu negara maka sebenarnya negara tersebut sudah siap untuk berkompetisi dengan negara lain. Dalam teori persaingan, kualitas dan kuantitas produksi yang efisien dan efektif hanya bisa dilakukan oleh teknologi.

Kenyataan bahwa selama ini seakan-akan Indonesia terisolasi dari persaingan diberbagai bidang tidak lain karena kurangnya teknologi modern yang dimilikinya. Sehingga kekayaan alam yang luar biasa ini belum dapat diolah dan dimanfaatkan dengan baik. Wal hasil, potensi alam di indonesia lebih banyak dikelola oleh negara asing yang lebih maju secara teknologi. Untuk menutup kelemahan yang mendasar tersebut tidak ada tindakan nyata lain selain melakukan hal yang sama dengan negara-negara maju yaitu meningkatkan kualitas teknologi dengan memaksimalkan potensi sumberdaya manusia yang dimilikinya.

Dalam dua (2) dekade, khususnya satu dekade terakhir berbagai upaya dilakukan oleh beberapa pihak (stakeholder pendidikan) untuk menjawab kenyataan bahwa Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Beberapa langkah yang dilakukan adalah pertama, peningkatan mutu pendidik. Kedua, peningkatan fasilitas pembelajaran, terlebih fasilitas ilmu pengetahuan (Lab. Kimia, Biologi, Matematika, fisika). Ketiga, penambahan alokasi dana pendidikan. Berbagai upaya tersebut tidak lain bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan, yang akhirnya kelak menjadi anak pintar dan kreatif. Start Model itulah yang selama ini diyakini oleh beberapa pihak (khusunya pemerintah) agar anak Indonesia siap saing dengan negara maju yang Ending point-nya anak-anak Indonesia dapat menciptakan teknologi-teknologi baru dan berkualitas.

Disadari atau tidak, sebenarnya bangsa ini mempunyai potensi besar untuk maju (dalam jangka panjang), hal ini terbukti dengan beberapa prestasi pelajar Indonesia di berbagai ajang kompetisi sains internasional. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Dari berbagai kompetisi akademis (sains) tingkat internasional yang diikutinya, pelajar Indonesia berhasil membawa pulang prestasi yang membanggakan. Mari kita hitung prestasi pelajar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir (data diperoleh dari www.yohanessurya.com dan surya.co.id):

Sedikitnya tujuh medali emas. Di ajang lomba penelitian dan presentasi tingkat dunia atau International Conference of Young Scientists (ICYS) 2009 di Polandia 24-28 April, pelajar Indonesia mengharumkan nama Indonesia dengan meraih enam emas, satu perak, dan tiga perunggu.Perolehan dua medali emas didapat dari bidang fisika oleh Guinandra Lutfan Jatikusumo (SMA Taruna Nusantara) dengan penelitian berjudul “Menghilangkan Asap dan Debu dari Tank Perang”, serta Idelia Chandra (SMA St Laurensia) yang meneliti perbedaan suara secara fisika dalam Gamelan Bali.Medali emas lainnya dari bidang komputer dipersembahkan Nugra Akbari (SMA Global Mandiri) dengan yang mempresentasikan penelitian soal batik yang dapat didesain lewat fractal. Selanjutnya, tiga medali emas didapat dari bidang ekologi dipersembahkan J Karli (SMA Cita Hati) yang mempresentasikan soal durian yang ternyata bisa membunuh nyamuk, Gabriella Alicia Kosasih (SMA St Laurensia) soal bakteri bisa memutus rantai molekul oli sehingga mudah dihancurkan tanah, dan Fernanda Novelia (SMA Petra 3) soal cara mengontrol hama dengan cara efektif.Di tempat terpisah, empat pelajar Indonesia yakni Dede Chyntia, Evelyn Wibowo, Reza Dwi Aji, dan Luthfi Rais yang ikut dalam Olimpiade Energi Teknik dan Lingkungan di di Houston, Amerika Serikat, pada 15-20 April lalu juga mempersembahkan medali emas dan perak. Peserta berasal dari 60 negara ditambah 40 peserta dari negara bagian AS.Dalam presentasinya di bidang lingkungan, Dede dan Evelyn meneliti penggunaan debu terbang hasil pembakaran batu bara untuk mengurangi keasaman pada air hujan serta mengurangi polusi udara. Atas penelitian ini, Dede dan Evelyn mendapat medali emas.Adapun Reza dan Luthfi meneliti bidang energi dengan tema memaksimalkan energi matahari untuk penggunaan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Keduanya menyabet medali perak

International Biology Olympiad(IBO)

Indonesia Rebut Dua Perak di Olimpiade Biologi
Indonesia meraih dua medali perak dan dua perunggu dalam ajang Olimpiade Biologi Internasional (International Biology Olympiad, IBO) ke-19, yang berlangsung pada 13–20 Juli 2008, di Mumbai, India. Medali perak disumbangkan Anugerah Erlaut (siswa kelas XI SMA Kharisma Bangsa, Tangerang) dan I Made Dwi Ariawan (siswa kelas XII SMAN 1 Tabanan, Bali).Sedangkan, dua medali perunggu disumbangkan Yanuar Dwi Putra (siswa kelas XII SMA Semesta Semarang, Jawa Tengah)dan Satria Cahya Pamungkas (siswa kelas XI SMAN 9 Yogyakarta).

International Olympiad Astronomy & Astrophysic (IOAA)
Indonesia Raih Empat Emas di Olimpiade Astronomi 2008
Dua Tim Indonesia meraih empat medali emas, tiga perak dan dua perunggu pada International Olympiad Astronomy & Astrophysic (IOAA) ke-2 Tahun 2008 yang ditutup di Sasana Budaya Ganesa ITB Kota Bandung, Rabu.Pada even yang berlangsung 19-27 Agustus 2008 itu, Tim Indonesia A meraih dua medali emas, satu perak dan satu perunggu sedangkan Tim Indonesia B meraih dua emas dua perak dan satu perunggu.Namun juara umum diraih oleh Tim India yang meraih dua emas, tiga perak dan satu perunggu.Medali Tim Indonesia A sebagai “main tim” dipersembahkan oleh Lorenz VG da Silva dan Adi Suwardi. Sedangkan perak dan perunggu dipersembahkan oleh Esther Brigitha dan Eky Valentian Febrianto.Tim Indonesia B sendiri yang tampil sebagai “Guest Team” tampil lebih produktif. Dua emas dipersembahkan oleh Ridho Wahyudi Wibowo dan Amar Kusumah.Dua perak dipersembahkan oleh Yudho Ahmad Diponegoro, Marshiela serta sekeping perunggu diraih lewat Veena Salim.

International Chemistry Olympiad (ICHO)
Indonesia Raih Medali Olimpiade Kimia Internasional
Tiga dari empat pelajar Indonesia meraih satu medali emas, satu perak dan satu medali perunggu dari Olimpiade Kimia Internasional di Budavest, Hungaria yang berlangsung pada 12 Juli hingga 21 Juli 2008 lalu.Mereka bersama kontingen Indonesia tiba di tanah air dengan menumpang pesawat LM-809 yang mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Sabtu sekitar pukul 17.00 WIB. Kedatangan Kontingen Indonesia di tanah air disambut Direktur Pembinaan Sekolah Menengah dan Madrasah Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional, Dr Sungkowo beserta sejumlah stafnya.

IPHO (International Physics Olympiad)
Indonesia Raih Dua Emas IPhO ke-39
Senin, 28 Juli 2008-Medali emas itu diraih Kevin Winata dari SMAK BPK Penabur 1 Jakarta dengan skor 40,73 dan Rudy Handoko Tanin dari SMA Sutomo 1 Medan dengan skor 33,30.Sementara itu, Thomas Aquinas Nugraha Budi dari SMAN 78 Jakarta dan Adam Badra Cahaya dari SMAN 1 Jember meraih medali perak. Sedangkan Tyas Kokasih dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, mendapat medali perunggu

Dan paling akhir Siswa-siswa Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Lima siswa Indonesia meraih 4 medali emas dan 1 perak dalam Olimpiade Fisika Internasional (IPhO) ke 41 yang diadakan di Zagreb Croatia. Kelima anak yang dikomandani oleh Hendra Kwee Ph.D ini adalah:
1. Christian George Emor SMA Lokon St. Nikolaus Tomohon Sulawesi Utara – Medali Emas
2. David Giovanni SMAK Penabur Gading Serpong, Banten – Medali Emas
3. Kevin Soedyatmiko SMAN 12 Jakarta – Medali Emas
4. Muhammad Sohibul Maromi SMAN 1 Pamekasan Madura – Medali Emas
5. Ahmad Ataka Awwalur Rizqi SMAN 1 Yogyakarta – Medali Perak

Hasil ini menunjukan suatu peningkatan yang luar bisa kalau dibandingkan dengan hasil yang diperoleh di Olimpiade Fisika Internasional ke-40 di Merida, Mexico, yang saat itu kita hanya meraih 1 emas, 3 perak dan 1 perunggu. Dari aspek jumlah peserta, Olimpiade tahun ini diikuti oleh lebih banyak negara.Tahun lalu hanya 70 negara yang mengirim tim, sedangkan tahun ini terdapat 82 negara dengan jumlah peserta sekitar 376 siswa yang berpartisipasi. Hasil yang menunjukan bahwa anak-anak Indonesia tidak kalah dengan siswa negara manapun di dunia ini, diperoleh tidak dengan mudah. Para siswa dibina secara intensif di Surya Institute oleh Hendra Kwee Ph.D selama lebih dari 8 bulan dengan didanai oleh Departemen pendidikan Nasional (kompas.com)

Dan masih banyak lagi prestasi akademik yang lain. Luar biasa bukan? Namun demikian, bukan berarti persoalan selesai, di Indonesia –bahkan sudah menjadi rahasia umum- penilaian prestasi masih sangat kurang dibanding dengan negara-negara lain, dan hal ini terjadi diberbagai bidang. Masih rendahnya penilaian pasca prestasi tidak lain adalah menjadi salah satu faktor penyebab kurang minatnya/rendahnya semangat akademik masyarakata Indonesia. Yang saya maksud adalah ketika reward bagi mereka yang berprestasi diras kurang maka banyak yang memilih pergi ke negara lain yang menghargai lebih dibanding negeri sendiri. Bukan berarti mereka tidak loyal atau tidak cinta bangsa ini tetapi mereka menghargai orang yang menghargai mereka….wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *