Belajar dari Gagalnya Italia di Piala Dunia 2018

Italia, ya…italia, salah satu partisipan terbanyak piala dunia, hari ini merasakan betapa perjuangannya di pentas piala dunia Rusia 2018 hanya sebagai penonton. Kekalahan atas Swedia 0:1 (agregat) seakan menampar juara 4 kali piala dunia betapa tidak, jika dilihat prestasi italia tidak perlu diragukan lagi, dijalur kompetisi domestic, mampu merajai kompetisi klub eropa bahkan dunia. Nama-nama pemain sepak bolanya? Siap tidak kenal Roberto Bagio, Palolo Maldini, Alesandro Del Piero, Fransesco totti, Andrea Pirlo dll. Perlu dipertegas dengan nama-nama klubnya? Ada Juventus 2 kali Juara Liga Champion dan sederet gelar lainnya, Ac Milan dengan 5 kali juara, Inter Milan 2 kali Juara….dan lain-lain. Pertanyaannya? Kenapa piala dunia 2018 mereka Gagal? Mari kita analisis…..
1. Persoalan Klub, di liga italia nama besar klub sama sekali tidak mencerminkan bahwa pemain-pemainnya adalah orang italia. Semisal Juventus, pemegang 35 Scudeto, 2 Juara Champion, 12 Coppa Italia, 2 Juara dunia antar klub, 3 UEFA, 2 Piala super eropa. Starting eleven nya (setidaknya pada saat bermain dengan Benevento, hanya 4 pemain yang menjadi pemain inti, sisanya pemain luar. Inter Milan bagaimana? Hanya 3 pemain asli italia yang sering masuk di starting eleven. Kemudian keterkaitan dengan piala dunia apa? Juventus hanya menyumbangkan 3 pemain di starting elevent (semuanya pemain Belakang termasuk penjaga gawang), inter Milan hanya menyumbangkan 1 pemain dll. Tukang gedornya diisi oleh pemain-pemain yang notabenenya pemain kelas 2 di dunia sepakbola lihat di http://www.livescore.com/worldcup/match/?match=1-2654255.
2. Terlalu Banyaknya Pemain Asing, tentu bukan rahasia umum jika italia disebut sebagai rajanya klub papan atas dunia (dengan nama2 yang saya sebut diatas), namun mayoritas klub-klub dengan nama mentereng tersebut berisi pemain2 asing sehingga pemain-pemain local kalah bersaing dengan pemain asing.
3. Finansial yang kuat. La kok bias? Bukankah dengan financial yang kuat sebuah klub bias menjadi klub yang besar dengan menghasilkan pemain-pemain yang berkualitas? Ya, ada benarnya. Namun persoalan yang ada di klub-klub Italia, dana yang besar tersebut digunakan untuk membeli pemain2 yang sudah terkenal sebut saja Dybala, higuain, dll. Sebatas demi menterengnya nama klub, tetapi tidak mempertimbangkan nasib tim nasionalnya.
4. Gagalnya Akademi Sepak Bola klub. Tentu jika kita melihat realita, bahwa nama-nama besar klub sepakbola di italia berasal dari pemain luar, tidak dari akademi masing-masing jikapun ada hanya kecil sekali porsinya seperti Daniel rugani di juventus, sisanya pemain dari akademi luar.

Melihat realita yang demikian, tentu tidak mustahil apabila italia gagal di piala dunia kali ini.

Belajar dari Kegagalan Italia
Kita bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 247juta lebih, semestinya untuk mencari 11 pemain tidaklah sulit, apa artinya 11 orang saja dibandingkan ratusan juta penduduk itu. Bandingkan dengan Spanyol yang hanya mempunya 46.56juta, inggris 53,01 juta, Perancis 66.8juta, mereka mampu bersaing ditingkat eropa bahkan dunia. Bagaimana dengan kita? Jangankan di level asia, level asean pun kita masih sulit bersaing dengan Negara-negara di asean bahkan lebih mirisnya dari jumlah penduduk mereka jauh lebih sedikit disbanding kita, seperti thailan, Malaysia, Vietnam. Mengapa demikian? Sepertinya kasus gagalnya Italia dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita, setidaknya 4 persoalan yang saya sebutkan di atas…….wallahu ‘alam….semoga Indonesia lebih baik kedepannya….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *